Minggu, 22 November 2015

Terimakasih Guru

Banyak sekali kenangan yang saya miliki ketika masih bersekolah dari yang lucu, bahagia sampai yang tersedih. Namun, dari semua kenangan itu, ada satu kenangan yang mengingatkan saya kepada salah satu sosok guru yang sangat luar biasa. Guru yang telah menginspirasi saya dan tanpa disadari saya pun telah mengikuti jejak beliau. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2, tepatnya bersekolah di SMP Negeri 1 Indralaya. Mungkin itu sekitar tahun 2004 an, mengenai waktunya saya tidak terlalu ingat. Namun, yang jelas saya masih mengingat setiap detail ceritanya. Hmm, di masa itu masih menggunakan kurikulum 1994 yang sedang menuju pergantian kurikulum 2004 yaitu KBK, dimana system sekolah masih menggunakan klasifikasi kelas berdasarkan prestasi atau peringkat kelas. Kelas yang paling diidamkan semua siswa adalah kelas unggulan dan biasanya merupakan kelas dengan urutan pertama. Alhamdulillahnya saya selalu masuk kelas itu hingga tamat sekolah, ya butuh perjuangan besar untuk berada disana karena otomatis harus belajar lebih giat lagi agar tidak tergeser dari posisi. Dan bermula dari sana lah, untuk pertama kalinya saya berinteraksi langsung dengan sosok guru tersebut, sosok yang sampai detik ini masih saya kagumi karena kedisplinannya.
Namanya, Bapak Rusman Hifni. Beliau adalah kepala sekolah saya sekaligus salah satu guru matematika di SMP. Sebenarnya, saya sering bertemu dengan beliau, namun tidak pernah berinteraksi langsung sama sekali, hanya saling berpapasan saja. Itu pun pertemuannya selalu di depan gerbang sekolah. Ya, setiap harinya beliau selalu berdiri di depan gerbang sekolah menyambut kedatangan siswa-siswanya. Bahkan saya pernah datang pagi-pagi, ternyata bapak Kepala Sekolah sudah berdiri di depan gerbang hingga sampai bel berbunyi. Beliau tidak hanya berdiri saja, namun juga menerapkan budaya cinta lingkungan. Jadi, setiap paginya kami sebagai siswa harus bersiap-siap mengorbankan kedua tangan untuk memungut sampah yang ada di sekolah. Setelah itu, baru kami bisa masuk kelas. Itu merupakan kenangan yang menurut saya mengajari banyak hal terutama tentang ketauladanan seorang pemimpin.
Meski seperti itu, ada satu kenangan terindah yang benar-benar membuat saya tidak bisa melupakan beliau bahkan ketika mengingatnya benar-benar membuat  terharu karena saya tidak menyangka telah mengikuti jejak beliau yang nantinya juga berprofesi menjadi seorang guru bidang studi matematika. Kenangan itu terjadi, ketika beliau masuk di kelas saya. Memang pada saat itu, kelas sangat ribut dikarenakan belum ada guru yang datang. Hingga akhirnya Bapak Rusman Hifni turun tangan dan menghampiri kelas kami. Kedatangan beliau benar-benar membuat kami yang tadinya ribut, langsung mengambil posisi duduk dan diam seketika. Suasana menjadi hening dan mencekam, bukan karena takut dengan beliau, namun mungkin karena rumor kedisplinan beliau yang telah menyebar seantero sekolah. Saat itu, saya hanya berfikir, apakah mungkin bapak kepsek akan menghukum kami karena membuat keributan di kelas, apalagi kelas kami merupakan kelas yang menjadi contoh untuk kelas lainnya. Belum lagi wajah yang ditunjukkan beliau sangat menakutkan, dingin dan tanpa ekspresi, benar-benar membuat kami semua menjadi sangat tegang dan tidak berkutik. Tidak lama dari itu, akhirnya bapak Rusman Hifni angkat bicara. “Pelajaran apa sekarang?”.
“Matematika, Pak”, jawab semua siswa dengan suara yang masih grogi
“Gurunya datang terlambat, ada sesuatu hal yang dilakukan. Karena itu, sampai gurunya datang, Bapak mau mengetest kalian”
Mendengar apa yang diucapkan bapak Rusman Hifni, semakin membuat suasana kelas menjadi lebih tegang lagi. Tidak tahu bagaimana ekspresi semua teman-teman lainnya, namun yang jelas, saat itu saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Menelan ludah pun rasanya susah banget..he..he. Kemudian, beliau memberikan beberapa aturan dalam tes ini. dan aturan ini lah membuat kami pun semakin tegang. Jika dipikir-pikir tes yang diberikan itu sangat lah mudah, yaitu Bapak Rusman hanya akan menanyakan soal perhitungan matematika. Namun, entah mengapa tes ini sangatlah sulit bagi kami dikarenakan ada aturannya yaitu tes yang diberikan menggunakan waktu dan  jika salah, maka wajah kami akan diberi bedak dari papan penghapus kapur.
Pertanyaan pertama pun di ajukan oleh bapak Rusman Hifni, dan satu anak sudah menjadi korban bedak. Selanjutnya pertanyaan kedua, ketiga, keempat, tetap sama setiap pertanyaan selalu ada korban. Hingga akhirnya, pertanyaan kelima. Semua siswa masih dengan wajah tegang dan was-was serta pastinya berharap bukan menjadi korban selanjutnya, ya termasuk saya yang berharap sama seperti itu. Namun ternyata, harapan  hanya harapan, pertanyaan itu pun diberikan kepada saya. Tidak bisa saya pungkiri, perasaan gugup ketika saya ditunjuk, benar-benar menerobos masuk di setiap aliran darah. Dengan waktu yang diberikan, saya harus menjawab pertanyaan bapak dan hasilnya bedak itu pun akhirnya menempel di wajah saya. Pertemuan ini pun berakhir ketika guru matematika kelas kami, akhirnya datang dan seketika itu juga suasana berubah tidak setegang tadi, teman-teman mulai merasa lega seperti baru saja keluar dari arena permainan yang menakutkan.


Kejadian itu pun mulai menjadi pembicaraan teman-teman, meski menakutkan ternyata menyimpan hikmah sendiri bagi kami, terutama untuk saya sendiri karena kejadian itu semakin memotivasi saya untuk selalu belajar terutama pelajaran matematika. Tidak hanya itu, ada hikmah lain yang kami dapat, kejadian barusan ternyata tidak hanya terjadi di kelas kami, melainkan kelas lain pun juga pernah merasakan dan setelah mendapatkan berbagai informasi, ternyata Bapak Rusman Hifni sering kali memantau kelas, jika tidak ada gurunya, maka Beliau yang akan mengisi kelas tersebut sampai guru yang mengajar datang di kelas. Terimakasih Guru

Rabu, 11 Juni 2014

SGI Share, Mekar Mukti nan Indah

     Perjalanan ini dimulai ketika aku dan rekan-rekan SGI melaksanakan program Share (SGI Help And Care) di Desa Mekar Mukti, Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Selama menuju kesana, banyak sekali tantangan-tantangan luar biasa yang harus kami lewati bersama, mulai dari perjalanan bogor menuju kecamatan cibalong dengan waktu kurang lebih 11 jam. Selanjutnya dari kec. Cibalong menuju desa Mekar Mukti kurang lebih 2 jam. Hal yang paling mengesankan, ketika menuju desa Mekar Mukti, kami menggunakan truk besar yang mana kami semua masuk di dalam beserta barang-barang bawaan. Selama perjalanan, ternyata jalanan yang harus kami lalui benar-benar ekstrim, kami harus berpegang kuat dengan setiap sisi-sisi truk sebab jika tidak kami akan terjatuh. Jalanan menuju desa merupakan jalanan berbatu, tanah yang berwarna merah serta harus melewati tanjakan-tanjakan tinggi dan turunan yang curam ditambah dengan panasnya matahari yang menyengat tubuh kami, tidak membuat kami lelah, bahkan semuanya tergantikan dengan pemandangan alamnya yang indah, bukit-bukit nan hijau mengitari setiap perjalanan kami, kemudian tampak dari kejauhan sawah-sawahnya pun menambah keindahan alam. Tidak hanya itu, lautan yang biru, terlihat dari kejauhan serta banyaknya buah pisang setiap perjalanan kami membuat perut ingin segera melahapnya.
    Sesampai di balai desa, kami disambut dengan baik oleh kepala desa dan beberapa perangkat desa, bahkan dusun kalong, tempat dimana aku dan teman-teman lainnya yaitu Suci, Icha, Hendra, Sauqi, Hakkin akan menginap selama 3 pekan dan bertemu dengan induk semang, kami didampingi oleh salah satu perangkat desa yang bernama Pak Ndang. Perjalanan kaki menuju dusun kalong membutuhkan waktu yang cukup lama karena jaraknya yang cukup jauh, namun hal itu tidak sebanding dengan pemandangannya yang sangat indah. Dalam perjalanan kami, di setiap sisi jalan yang kami lalui tak luput dari buah yang namanya pisang, kamipun harus berjalan ditengah lebatnya hutan, namun ada beberapa lahan yang telah ditanami warga dengan berbagai tumbuhan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu kacang hijau, cabe rawit, singkong dan lain-lain. Selain itu, selama perjalanan kami harus naik turun bukit yang mana jalan yang kami lalui penuh dengan batu-batuan, bahkan juga ada yang tanahnya merah, jika hujan kerap kali alas sepatu menjadi setebal tanah. Meski perjalanan kami sulit dan ditambah dengan membawa berbagai macam barang-barang kebutuhan yang kami miliki, ternyata hal itu sangat menyenangkan. Apalagi ditambah keramahtamahan bapak Ndang yang menemani kami selama perjalanan. Jika dilihat, Pak Ndang sudah cukup tua, tampak diwajahnya terukir keriput-keriput yang menggarisi warna kulitnya, rambutnya yang putih, serta tubuhnya yang kurus dan kecil, tidak membuat dia kelelahan ketika menemani kami menuju dusun kalong. Walaupun seperti itu, Pak Ndang telah banyak membantu kami dengan membawa salah satu barang bawaan.
    Ketika di tengah perjalanan, aku mengalami kelelahan karena bawaan yang kubawa cukup banyak, tak lama dari itu Pak Ndang membantu aku untuk membawakan barang-barangku, sehingga barang yang dibawa Pak Ndang menjadi dua. Awalnya kutolak, namun kata Pak Ndang "tidak apa2". Hal itu, semakin menyadariku bahwa masyarakat mekar mukti sangatlah ramah dan sangat baik dalam menyambut kami serta tingkat kepeduliannya kepada orang lain juga tinggi. Kemudian, karena menuju dusun kalong merupakan perjalanan pertama kami, tampak sekali kalau kami mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, mungkin karena belum biasa untuk melewati medan yang seperti itu. Sehingga, Pak Ndang meminta kami untuk berhenti dan singgah di salah satu rumah penduduk yang cukup sederhana. Di rumah tersebut, kami disajikan minuman oleh pemilik rumah padahal kami sendiri saja belum kenal dengan pemilik rumah tersebut. Tidak hanya itu, dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada rumah lagi yang mana pemilik rumahnya menyajikan berbagai bentuk makanan seperti kelontong, opak, wajik dan kripik pisang. Saat itu, diantara kelelahan yang kami lalui, ternyata masyarakat desa mekar mukti menyambut hangat kedatangan kami, ciri makanannya yang khas serta keramahan yang mereka berikan membuat aku dan teman-teman serasa berada di kampung sendiri. Kami pun bersama-sama saling mengenalkan diri dan menceritakan tujuan kedatangan SGI ke desa mekarmukti. Selain itu, kami juga mendapatkan informasi tentang kemajuan desa mekar mukti, yang awalnya belum memiliki listrik dan sekarang listrik telah dirasakan di setiap rumah. Perjuangan masyarakat dalam membangun desa mekar mukti sangatlah gigih, budaya mereka yang saling gotong royong membuat desa mekarmukti mengalami perkembangan yang cukup pesat meskipun belum maksimal.
  Akhirnya, tempat yang aku dan teman-teman tuju telah sampai, walau harus bermandikan keringat karena panasnya matahari, ternyata saat-saat itu terdengar suara gemuruh aliran air yang cukup keras, sesaat aku melihat ke arah suara itu,..."SubhanaAllah", itulah kata pertama yang keluar dari mulutku, mataku tak henti-hentinya melihat ke arah itu yang mana posisi aku dan teman-teman berada di atas bukit, tampak sebuah sungai yang luas dengan arus airnya yang deras serta batu-batuan yang besar telah menghipnotisku atas keindahan alamnya yang luar biasa. Tak lama dari itu, aku dan teman-teman melanjuti perjalanan, hingga akhirnya diantar Pak Ndang ke rumah induk semang masing-masing. Kami pun secara bergiliran mengunjungi rumah masing-masing untuk saling bersilaturahmi, seperti biasa lagi dan lagi, aku dan teman-teman disambut dengan sangat baik,  bahkan disajikan minuman dan makanan ciri khas daerah sana. Begitulah, kesan pertamaku ketika pertama kali datang ke desa mekar mukti dusun kalong, pemandangan alamnya yang indah yang masih dijaga kelestariannya serta budaya keramahtamahan masyarakatnya yang masih kental dalam menerima kedatangan kami, telah mengajariku banyak hal tentang bagaimana bersikap dan memperlakukan orang lain, meski itu orang yang belum dikenal.


Bangga Jadi Guru....
Guru Berkarakter...
Menggenggam Indonesia....

Untuk mengetahui info tentang Aktivitas SGI, bisa kunjungi web: sekolahguruindonesia.net



Suasana Desa Mekar Mukti....





Minggu, 13 April 2014

PTK itu Penting loh!!!

PTK? mungkin singkatan ini sudah lazim untuk didengar bahkan sudah biasa untuk diucapkan. Akan tetapi, ketika pelaksanaanya masih banyak guru yang belum mengerti secara keseluruhan mengenai pentingnya PTK dalam meningkatkan keberhasilan pembelajaran di kelas.

PTK singkatan dari Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan salah satu jenis penelitian yang digunakan guru untuk mengukur keberhasilan pembelajaran di dalam kelas baik itu hasil belajar siswa, aktivitas siswa, proses pembelajaran, motivasi siswa, minat siswa dan lain-lain. Selain itu, PTK juga bertujuan untuk membantu guru dalam mengukur kompetensi yang dimilikinya, sehingga setiap pertemuan dalam siklusnya selalu ada perubahan yang lebih baik jika tindakan yang dilakukan belum mencapai indikator yang diinginkan. Selanjutnya dengan adanya PTK, membuat guru menjadi kreatif dalam merencanakan skenario pembelajaran karena diketahui bahwa di dalam PTK terdapat siklus-siklus yang mengacu pada keberhasilan indikator yang diinginkan, sehingga ketika di dalam siklus tersebut ada tindakan yang kurang tepat dan belum mencapai indikator yang diinginkan, maka dengan cepat guru akan mencari solusi atas kekurangan/kelemahan yang terjadi pada siklus tersebut bisa berupa ketidaksesuaian dalam pemilihan metode, kemudian tidak adanya media pembelajaran yang sesuai dengan materi atau juga informasi yang diberikan tidak menyeluruh. Kemudian setelah mendapatkan solusi tersebut, guru akan menerapkan pada siklus selanjutnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama pada siklus sebelumnya. Dengan demikian, secara tidak langsung PTK telah melatih kreativitas guru dalam merencanakan pembelajaran. Tidak hanya itu, dengan adanya PTK akan membuat proses pembelajaran di kelas lebih aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan, yang mana dapat membangun pengetahuan siswa secara mandiri, sehingga pengetahuan tersebut membekas lama di memori siswa, dan akhirnya dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki siswa sesuai dengan bakat dan minat siswa. Hal itulah akan membuat pembelajaran di kelas tidak membosankan, kemudian siswa tidak pasif dan pastinya pembelajaran yang terjadi berpusat pada siswa (student center).


Resume dari pembelajaran hari ini mengenai PTK bersama Bapak Wijaya Kusumah (om Jay)

Sabtu, 12 April 2014

Pendidikan itu Mendidik, Bukan Untuk Membunuh

Fenomena pendidikan saat ini, telah memberi luka bagi anak-anak didik terutama untuk anak sekolah dasar, kerap kali bagaikan penjara yang membelenggu kreatifitas anak, tidak hanya itu suasana kelas yang dingin, kaku, tidak menyenangkan menambah penderitaan untuk mereka, hingga terkadang label “kuburan” pantas untuk disandang, seperti itulah kondisi kelas yang sering kali ditemui di sekolah. Selain dari itu, penggunaan bahasa yang kasar menjadi senjata bagi guru untuk membuat anak-anak menjadi tertib atau membuat mereka agar belajar sesuai dengan keinginan guru tersebut, seperti “kamu ini bodoh ya? Begini saja gak bisa, coba dibaca!!!!”. Kalimat-kalimat seperti ini mungkin pernah didengar, tidak hanya guru bahkan orang tua pun juga pernah mengatakan kalimat seperti itu. Jika dipikirkan apa yang terjadi dengan anak-anak yang mendapatkan perlakuan seperti itu? Sering kali, anak-anak hanya merespon dengan ekspresi kediaman mereka, akan tetapi bagaimana dengan perkembangan psikologi mereka? Pernahkah kita memikirkan, apa yang dirasakan anak-anak ketika telinga yang seharusnya mendengar hal yang baik, tetapi yang diterima adalah perkataan-perkataan kasar bahkan ada juga yang memberikan tindakan kasar seperti mencubit atau memukul. Beginilah potret pendidikan yang terjadi di negara kita ini. Sungguh sangat menyedihkan jika seorang guru hanya mengajar saja yang notabennya sekedar mengtransfer ilmu, tanpa memikirkan perkembangan psikologi anak terhadap perilaku-perilaku yang diterima oleh anak.
Dalam teori psikologi perkembangan anak dari piaget yang menyatakan “belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relative tetap”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang anak dikatakan belajar, jika di dalam dirinya mengalami perubahan tingkah laku, yang mana perubahan tersebut diperoleh dari pengalaman yang pernah diterima oleh anak dan juga perubahan tersebut akan bersifat tetap jika anak mendapatkan pembelajarannya dari hal yang pernah dialaminya sendiri. Dengan demikian, anak akan menerima suatu pembelajaran jika pembelajaran tersebut bersifat konkrit atau nyata, berarti titik tumpu keberhasilan sebuah pembelajaran adalah peran seorang pendidik, salah satunya adalah guru. Guru adalah cerminan dari anak didiknya, guru adalah tauladan bagi anak didiknya dan guru adalah model bagi anak didiknya. Maka dari itu, apa yang dilakukan guru, hal itulah yang dilakukan oleh anak didiknya. 
Selain dari itu, menurut Piaget mengenai terjadinya proses belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan. Skema adalah pengalaman khas yang diterima anak berupa stimulus dari benda sekitarnya, peristiwa ataupun gagasan yang telah dimiliki sebelumnya, yang selanjutnya anak akan mengasimilasikannya dengan cara menyesuaikan stimulus yang ada di dalam pikiran anak dengan stimulus yang baru diperolehnya dari lingkungan. Kemudian, jika hal itu sesuai dengan apa yang dipikirkannya maka anak akan mengakomodasikannya yang nantinya akan membentuk keseimbangan dan akhirnya terjadilah perubahan tingkah laku pada anak.
Akan tetapi, apa yang terjadi, jika stimulus yang baru diperoleh anak tersebut tidak sesuai dengan pemikiran anak??? Pastinya akan terjadi semacam gangguan mental atau ketidakpuasan mental seperti kekesalan, kemarahan, dan bahkan kebencian. Hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam proses belajar, sehingga anak didik kerap kali lebih memilih untuk melepaskan diri dari proses belajar, mengabaikan stimulus, menyerah dan tidak berbuat apa-apa bahkan lebih parah lagi memutuskan untuk tidak ingin pergi ke sekolah, secara tidak langsung proses belajar seperti ini merupakan salah satu cara dalam membunuh karakter anak yaitu hilangnya kepercayaan diri, motivasi yang rendah dan kurangnya minat siswa dalam belajar. Sehingga pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri jika hasil belajar yang diperoleh anak didik adalah rendah.
Kadang kala, pemikiran saat ini yang terjadi di lingkungan sekolah atau masyarakat menyatakan bahwa rendahnya hasil belajar anak didik diakibatkan karena kesalahan anak didik itu sendiri yaitu tidak memperhatikan guru, malas belajar ataupun alasan lain yang menyatakan anak didiklah yang salah. Namun, jika diperhatikan sepenuhnya bukanlah datang dari kesalahan anak didik, banyak faktor lain yang menyebabkan hal itu terjadi, bisa datang dari sekolah atau dari keluarga yang notabennya memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan hasil belajar anak didik. Mungkin hal ini sering kali disepelekan karena terkadang pemikiran orang dewasa itulah yang paling benar, sehingga sering kali langsung "mengjudge" perilaku anak didik yang salah tanpa mendengarkan penjelasan mereka terlebih dahulu. Jikapun anak didik melakukan kesalahan, hal yang dapat dilakukan adalah memberikan penjelasan kepada mereka secara rinci dengan  tidak menjudge kesalahan yang telah mereka lakukan, sehingga anak didik bisa menerimanya dengan lapang dada tanpa memberontak atau menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan. Dengan demikian pendidikan itu tidak hanya mengajar, melainkan bagaimana mendidik anak agar tidak membunuh karakternya, melainkan dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak sehingga dapat bersaing di era globalisasi saat ini.

Senin, 07 April 2014

Aktivitas Saya

 1. Metode Pembelajaran Karya Wisata dalam Materi Batuan, Pelapukan dan Tanah sekaligus Hidroponik


2. Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan origami


3. Model Pembelajaran Role Playing dalam materi drama


4. Model pembelajaran Kooperatif tipe tutor sebaya


Sabtu, 05 April 2014

Kerlina, Anak Kreatif Penderita Disleksia

    "Disleksia", adalah kata yang jarang sekali terdengar di kalangan masyarakat umum. Kata ini digunakan untuk anak-anak yang belum mampu belajar dalam aktivitas membaca dan menulis dikarenakan adanya kesulitan yang mereka hadapi. Kerap kali yang terjadi di sekolah, anak-anak seperti itu dianggab "bodoh", hingga tidak jarang pilihan yang harus mereka terima adalah "tidak naik kelas". 



Kerlina adalah sesosok anak perempuan yang manis, perawakannya cukup tinggi, warna kulitnya sawo matang dan rambutnya hitam lurus memanjang.. Kini umurnya 14 tahun, seusia dengan anak yang duduk di kelas VIII SMP. Namun pada kenyataannya, ia sekarang masih duduk di bangku kelas V SD. Begitulah kondisi yang dihadapi Kerlina, ia sudah 3 kali tidak naik kelas dikarenakan tidak bisa membaca. Anak yang biasa dipanggil Elin oleh orang-orang sekitarnya, itu selalu tampil periang, meski sering kali diperolok-olok oleh teman-teman sekelasnya karena kondisinya yang belum bisa membaca. Akan tetapi, hal itu tidak pernah membuatnya menyerah untuk tetap sekolah. Ia tetap bertahan diantara kekurangan yang ada pada dirinya, walaupun tidak bisa dipungkiri anak seusia itu pasti akan merasa minder terhadap lingkungannya. Namun karena semangatnya yang tinggi tak pernah menghentikan langkahnya sedikitpun.
Pertama kali ku melihatnya, ketika mengajar di kelas V materi cara membaca puisi. Saat itu, aku membagi siswa menjadi 8 kelompok. Namun, tiba-tiba ada beberapa siswa yang menyeletuk “ibu, kami tidak mau berkelompok dengan Kerlina. Dia tidak bisa membaca, gimana dengan kelompok kami, Bu?”. Mendengar itu, aku sungguh kaget, “udah kelas V belum bisa membaca, kok bisa?”, gumam saya dalam hati. Mataku langsung tertuju pada sesosok anak yang dipanggil Kerlina, tak lama dari itu aku mendekatinya sambil memikirkan apa yang harus kulakukan terhadap celetuk teman sekelompoknya. Saat itu, wajahnya hanya tertunduk saja, seperti sedang menahan malu yang luar biasa. Kupandang lekat-lekat Kerlina dan teman sekelompoknya, “nah, makanya dibuat kelompok agar kalian bisa ngajari Kerlina, ok”, jawabku sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka.
Itu pertama kalinya aku mengenal Kerlina. Hal yang kupikirkan tentangnya mungkinkah Kerlina menderita disleksia, hingga suatu hari aku memintanya untuk membaca tulisan yang telah kubuat, ternyata Kerlina menunjukkan gejala-gejala anak yang mengalami disleksia, yaitu Kerlina belum bisa membedakan huruf “M” dengan “N”, kemudian huruf “T” dengan “W”. Selain itu dari segi pengucapan huruf, ia belum bisa membedakan huruf “F” dengan “P” dan juga “V”. Kemudian, ketika diminta membaca satu kata dengan cara mengeja, ia membacanya mulai dari ejaan paling belakang, sehingga kerap kali kata yang tertulis berbeda dengan kata yang ia baca, terkadang juga menambah huruf-huruf yang seharusnya tidak ada menjadi ada atau mengurangi huruf-huruf yang seharusnya ada menjadi tidak ada dan hal itu pun berdampak pada tulisannya.
Mungkin kejadian ini merupakan hal yang biasa saja karena gejala seperti itu dianggab ciri-ciri dari anak yang bodoh atau anak yang malas belajar. Akan tetapi bagiku, itu adalah hal yang tidak berlaku untuk Kerlina karena Kerlina bukanlah sosok anak yang seperti itu, ia hanya mengalami kesulitan ketika mengelola informasi yang hendak dibaca ataupun didengar sehingga menyebabkan proses pembelajarannya tidak sempurna, apa yang ditanyakan tidak sesuai dengan apa yang dijawab, terkadang jikapun mengerti dengan pertanyaan itu dan mengetahui jawabannya, ia hanya bisa membuat jawaban itu berada di alam pikirannya dan ketika hendak menuliskannya, ia sulit untuk menyusun satu per satu huruf yang harus digunakan dan pada akhirnya, Kerlina selalu mendapatkan nilai paling kecil diantara teman-temannya.
                Namun, hal itu tidak membuatku menyerah. Aku berusaha memberikan les tambahan kepadanya sepulang sekolah. Meski, waktu yang kupunya hanya 2 bulan, ternyata aku belum mampu sepenuhnya membuat Kerlina membaca dikarenakan waktu yang sedikit itu tidak cukup untuk mengajarinya membaca. Namun, selama kami belajar bersama, Kerlina sudah mampu menyelesaikan satu indikator yaitu membedakan huruf, tinggal bagaimana cara menyusun dan membaca kalimat. Hal itu sungguh membuatku bahagia. Akan tetapi, ada hal yang lebih luar biasa yang dimiliki oleh Kerlina, sesuatu yang belum tentu anak lain bisa melakukan seperti apa yang Kerlina lakukan. Saat itu, ketika pembelajaran matematika mengenai sifat-sifat kubus, siswa mendapat tugas dariku untuk membuat kubus dengan menggunakan origami, yang mana posisiku adalah pengarah atau pemberi petunjuk cara membuat kubus tersebut. Semua siswa mengikuti petunjukku, akan tetapi ketika merangkai origami menjadi kubus, siswa mengalami kesulitan sehingga beberapa kali aku harus mengulangnya dan mengajari mereka satu per satu.  Namun, diantara semua siswa tersebut, Kerlinalah yang tidak sama sekali meminta bantuanku untuk mengajarinya. Ia hanya sesekali maju ke depan dan memperhatikan aktivitas yang dilakukan olehku. Kemudian, dengan sigapnya, Kerlina menunjukkan hasil buatannya kepadaku, ternyata kubus yang dia buat berbeda bentuk dengan kubus buatanku. Hal itu membuat aku menjadi kaget dan takjub, “anak ini kreatif”, gumamku sambil tersenyum. Namun, karena Kerlina merasa bentuk kubusnya berbeda dari teman-temannya yang lain, ia pun dengan cepat merangkainya kembali menjadi bentuk kubus yang sama dengan teman-temannya. Tidak hanya itu, Kerlina juga cepat menangkap jika diajari membuat kreatifitas, salah satunya membuat bunga dari plastik, bunga dari kertas kreb, hanya dengan melihat saja contohnya ia telah mampu membuatnya sendiri dan bahkan mengajari teman-temannya yang lain.
                Dari semua karya yang dibuat Kerlina, ada satu karya yang membuatku sangat terharu. Saat itu, ketika kami belajar bersama, Kerlina izin sebentar untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Dengan langkahnya yang pelan, sambil tangannya di belakang, tiba-tiba dia mendekatiku dan berkata “Ini untuk ibu” sambil memberikan sebuah benda yang unik. Melihat itu, ada perasaan haru yang menyelimutiku, ingin sekali aku menangis, tetapi air mata itu tertahankan di ujung pelupuk mataku. Aku hanya bisa terdiam dan memandang benda yang tepat berada di depan mataku….ya benda berwarna pink dengan wajah menyerupai kucing telah menghipnotisku sesaat, bukan karena bagaimana bentuk benda itu, tetapi makna dibalik benda itu telah mengingatkanku dengan masa kecilku, sebuah tabungan yang didesign sendiri dengan wajah kucing, telah membuat hariku saat itu semakin berwarna dan perlahan aku mengatakan “terimakasih ya, ini sangat bagus sekali” ungkapku sambil tersenyum kepada Kerlina.
                Jika dipikirkan, bukannya setiap anak itu special? Meski mereka belum mampu secara akademik, ternyata mereka mampu mengeksplor kecerdasan lainnya dalam bentuk karya salah satu contohnya adalah Kerlina. Dilihat dari kecerdasan kognitif, Kerlina belum mencapai kompetensi belajar yaitu membaca. Namun jika dilihat dari kecerdasan Psikomotorik, Kerlina telah mencapainya, ia mampu mengeksplorasi setiap ide kreatif yang ia miliki dan mengaplikasikannya melalui hasil karya yang telah ia buat. Bukankah, hal itu luar biasa???? Setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing, tinggal bagaimana peran lingkungannya dalam mengembangkan setiap kecerdasan tersebut.

Gambar di bawah ini merupakan hasil karya Kerlina
            
         

Kampusku Awal Perubahanku

http://www.bersamadakwah.com/2013/10/kampusku-awal-perubahanku.html


           Dalam pikiranku yang kelam, saya termenung apakah saya harus mengambil jurusan ini? Apakah ini jalan hidupku? Setelah begitu banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan keguruan di salah satu perguruan tinggi negeri, walaupun saya tidak mengerti darimana munculnya keyakinan itu. Akan tetapi, disinilah saya memulai mengenal Islam lebih jauh dan perlahan-lahan memahaminya secara keseluruhan, sehingga baru saya menyadari bahwa saya adalah salah satu dari obyek dakwah itu sendiri.

         Hal ini bermula, ketika saya menginjakkan kaki di kampus tersebut sebagai mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan P2K (Pengenalan Program Kampus). Pandanganku mencari dimana barisan jurusanku, tetapi mataku tertuju satu hal yang menurutku aneh, sehingga terbesit dipemikiranku “Mengapa panitia perempuan rata-rata berjilbab? Ini sebenarnya kampus atau pesantren? Apakah nanti saya harus berpakaian seperti itu juga?” Hatiku menjawab: “saya tidak ingin seperti itu apalagi menggunakan jilbab, pasti sulit pakai jilbab!” Kemudian saya menepis pemikiran itu,karena saya harus segera mencari barisanku. Akhirnya dengan nafas yang tersengal-sengal, saya menemukannya dan ternyata, di jurusanku dengan 5 laki-laki dan 31 perempuan, hanya 6 perempuan yang tidak menggunakan jilbab, salah satunya adalah saya. “Biarin sajalah, saya adalah saya”, demikian kata hatiku saat itu.

            Kegiatan P2K selesai dengan lancar. Sebelum pulang kami diabsen oleh panitia dan salah satu panitia perempuan menunjukkan tangannya ke arahku dan bertanya “Dek, agamanya Kristen?” Saya kaget dan menjawab “Bukan mbak, saya Islam.” Kemudian mbak itu pergi tanpa ada satu katapun yang terucap dan saya termenung dengan lamunanku sendiri “Hmm, gara-gara saya tidak berjilbab dianggap Kristen, apakah orang Islam itu harus berjilbab?”
Seiring perjalananku menuju rumah, saya dikagetkan lagi, tiba-tiba ada yang menegurku dari jarak jauh dan sambil mendekatiku, “Assalammualaikum, kamu yang tadi satu kelas denganku? kata wanita itu”.
“Mmm, iya ya?”, jawabku.
“Iya, tadi kamu barisnya di depanku. Kenalkan, namaku Bunga”.
“Ouw iya, namaku Desty, salam kenal juga”
“Nanti kita bertemu lagi ya”
“OK lah, sampai bertemu lagi,” jawabku mengakhiri perkenalan pertama saya dengan Bunga, yang kelak menjadi salah satu orang yang berpengaruh besar dalam perubahan hidupku.

         Kamipun berteman dengan baik, tetapi sering timbul pertanyaan karena menurutku pertama kalinya saya mempunyai teman seperti Bunga, teman yang cara berpakaiannya sudah sangat berbeda dibandingkan dengan teman-temanku sebelumnya. Bukan hanya Bunga, ada juga sebagian teman di kelas yang berpakaiannya sama seperti Bunga, yang sering kali kupertanyakan, ”Mengapa jilbabnya panjang sampai menutupi dada dan sampai menjulur ke belakang, sedangkan yang sering kulihat jilbab yang pendek dan modis?” Bahkan bukan hanya di kelas, melainkan sebagian di kampus berpakaian seperti itu, walaupun tidak terlalu banyak, tetapi menonjol dan menjadi pusat perhatianku. Meski kepalaku penuh dengan pertanyaan seperti itu, saya tetap saja kokoh dengan pemikiranku sendiri yaitu saya adalah saya, terserah apa yang ada di sekitarku. Akan tetapi semuanya runtuh secara bertahap, saya mulai ragu dengan pemikiranku sendiri. Hal itu terjadi, ketika adanya kegiatan kampus yang harus diikuti oleh mahasiswa baru yaitu “Go Amkai atau Mentoring” yang dilaksanakan pada hari Sabtu. Pada hari sebelumnya sudah ada selebaran yang menginformasikan kegiatan tersebut dan ada salah satu opini di selembaran tersebut kalau setiap hari Jum’at menggunakan jilbab. Hal itu, saya tanyakan kepada Bunga dan akhirnya saya memutuskan untuk berjilbab di hari Jum’at saja karena mengikuti apa yang disampaikan panitia kepada Bunga sebab saya berfikir tidak ingin bermasalah dengan panitia. Akan tetapi, teman di kelas kaget melihat saya, mereka berfikir saya sudah berjilbab dan mengatakan selamat kepada saya. Saya terpaku diam di kelas, ingin sekali mengatakan kalau saya belum berjilbab alias salah pakai kostum, namun satu katapun tidak terucap, mulut ini bagaikan terkunci tidak bisa mengatakan atau menyangkal apapun. Ketika hari esoknya, kegiatan Amkai dimulai dan saya menggunakan jilbab lagi karena tuntutan panitia. Hal itu semakin membuat keyakinan teman-teman saya kalau saya berjilbab. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjilbab. Meskipun saya sudah berjilbab, tetap saja saya merasa aneh dengan lingkungan saya sendiri. Jilbab yang saya gunakan adalah jilbab yang pendek, tidak menutupi dada dan transparan serta cara berpakaian saya tetap menggunakan jeans dan jauh untuk menggunakan kaos kaki.

           Kemudian saya juga mengikuti mentoring karena tuntutan nilai agama. Berjalannya waktu,  mentoring telah selesai dan selanjutnya yaitu liqo. Akan tetapi, saya tidak mengikuti liqo karena saya berfikir, mungkin saja itu aliran sesat yang nanti bisa menjerumuskan saya ke hal yang negatif. Pemikiran itulah, yang saya pegang. Meski akhirnya, mulai berangsur berubah ketika saya memutuskan bergabung di BEM. Saya bertemu dengan mbak-mbak yang jilbabnya lebih panjang dari teman-teman saya dan salah satu dari mereka mengatakan pada saya, “Ngaji tidak?” Saya hanya tersenyum saja ketika mendengar itu, mbak itu berekspresi seolah-olah sudah mengerti arti senyum saya dan mbak itu mengatakan, “Jika ingin mendapat suami yang baik, maka jadilah perempuan yang baik”.“Mengapa seperti itu mbak, saya kan belum ingin menikah, apa hubungannya?”, jawabku. Mbak itu hanya tersenyum, sambil menjawab, “Makanya, ngajilah!” Mendengar itu saya kaget, hati ini terasa sakit, di fikiranku hanya terlewat, ”Mengapa seperti itu, saya perempuan baik-baik dan keluargaku juga baik-baik, apa hubungannya?” Saya hanya merasa terhina dari perkataan mbak itu, tanpa sadar air mata menetes tidak bisa menahan lagi rasa sakit tersebut. Sayapun pergi bertemu dengan Bunga dan menceritakan itu semua sambil menangis, entah darimana pemikiran itu, tiba-tiba saya mengatakan pada Bunga bahwa saya memutuskan untuk ikut liqo, saya hanya berfikir saya akan membuktikan, bahwa saya adalah perempuan baik-baik dan dari keluarga baik-baik. Akhirnya, Bunga yang mendengar itu menyampaikan maksud saya kepada orang yang tepat untuk mendakwahi saya. Sejak saat itulah, satu persatu saya mulai berubah dimulai dari cara berjilbab, berpakaian, pemahaman mengenai Islam serta konsep mengenai dakwah itu sendiri.[]