Senin, 23 September 2019

Budaya Organisasi Pendidikan Islam

Budaya Organisasi Pendidikan Islam

 Pendahuluan
Para ahli pendidikan berpendapat bahwa budaya adalah dasar terbentuknya kepribadian manusia, dari budaya dapat terbentuk identitas seseorang, identitas masyarakat bahkan identitas suatu lembaga khususnya lembaga pendidikan Islam. Dalam lembaga pendidikan Islam secara umum terlihat adanya budaya yang telah melekat dalam tatanan pelaksanaannya, serta memberikan inovasi pendidikan Islam dengan cepat. Budaya tersebut dapat berupa nilai-nilai religius, filsafat, etika dan estetika yang terus dilakukan. Budaya organisasi terutama di lembaga pendidikan Islam, memegang peranan penting, sebab menjadikan lembaga tersebut lentur, fleksibel dan elastis, sebagaimana budaya yang tidak akan pernah mengalami kemunduran dan akan menjadi sangat sempurna jika dipadu dengan agama yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa agama termasuk dalam lingkup budaya. Itupun jika umat beragama mampu mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan budayanya, sedangkan bila tidak, maka justru akan menjadikan budaya umat yang termarginalkan dalam persaingan di dunia pendidikan itu sendiri.
Pemimpin lembaga pendidikan Islam berusaha untuk menggagas, mengembangkan dan menginternalisasikan potensi dan nilai-nilai budaya pada lembaganya agar seluruh warga lembaga pendidikan Islam mampu mempersepsikan dirinya dan mampu merespon dan berkomunikasi dengan lingkungan lembaganya. Dalam kaitan ini, budaya organisasi merupakan sebuah nilai dan prilaku yang harus diorientasikan secara aktif dalam mengembangkan lembaga pendidikan Islam dan memberi bekal kepada seluruh warganya untuk dapat melukiskan pola implisit, perilaku, dan emosi yang muncul yang menjadi karakteristik dalam organisasi.
Antara lembaga pendidikan Islam dan budaya organisasi terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya dengan suatu hal sama yaitu nilai-nilai. Seorang pemimpin lembaga pendidikan Islam mempunyai kemampuan untuk menciptakan budaya dan fungsi budaya di lembaganya. Dengan terbangunnya pondasi budaya organisasi di lembaga pendidikan Islam yang kuat, sangat memungkinkan masuknya ide-ide baru ke dalam lembaga tersebut. Dan apabila seorang pemimpin lembaga pendidikan Islam melakukan interaksi-interaksi dengan lembaga dari dalam dan luar negeri, diharapkan nantinya mampu menginspirasi pemimpin lembaga tersebut untuk dapat mengembangkan budaya yang ada di lembaganya sendiri ke arah yang lebih baik, demi mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.

Pembahasan

A.    Pengertian Budaya Organisasi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, budaya (culture), diartikan sebagai: pikiran, adat, istiadat, sesuatu yang sudah berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar di ubah. Dalam pemakaian sehari-hari, biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi (tradition). Dalam hal ini tradisi diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan kelompok dalam masyarakat tertentu. Beberapa pengertian budaya dalam perspektif para pakar, antara lain sebagai berikut:

1. Menurut Gibson Ivancevich Donnely, Budaya mengandung pola, baik eksplisit maupun implisit dari dan untuk perilaku yang dibutuhkan dan diwujudkan dalam simbol menunjukkan hasil kelompok manusia secara berbeda, termasuk benda-benda hasil ciptaan manusia. Inti utama dari budaya terdiri dari ide tradisional dan terutama pada nilai menyertai.
2. Menurut Richard A. Shweden, Budaya sebagai gagasan-gagasan yang bersifat khusus suatu masyarakat berkenaan dengan hal-hal yang dianggap benar, baik, indah dan efisien yang harus disosialisasikan dan dibiasakan secara turun temurun
3. Menurut Nedler, Budaya sebagai kebiasaan yang dikembangkan orang untuk mengatasi perubahan. Suatu budaya dimanifestasikan terhadap perilaku yang dapat diamati. Suatu kultur juga tidak berada dalam pemikiran seseorang melainkan berada dalam tindakan nyata. Tetapi juga tidak berarti bahwa semua tingkah laku orang yang dalam organisasi merupakan kultur

Sedangkan untuk pengertian budaya organisasi, antara lain sebagai berikut: 
1.Menurut Schein, budaya organisasi adalah pola asumsi dasar yang dianut bersama oleh sekelompok orang setelah sebelumnya mereka mempelajari dan meyakini kebenaran pola asumsi tersebut sebagai cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan adaptasi eksternal dan integrasi internal, sehingga pola asumsi dasar tersebut perlu diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk berpersepsi, berpikir dan mengungkapkan perasaannya dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan organisasi.
2.Menurut Tunstal, budaya organisasi adalah suatu konstelasi umum mengenai kepercayaan, kebiasaan, nilai, norma perilaku, dan cara melakukan bisnis yang unik bagi setiap organisasi yang mengatur pola aktivitas dan tindakan organisasi, serta melukiskan pola implisit, perilaku, dan emosi yang muncul yang menjadi karakteristik dalam organisasi.
3.Menurut Andrew Brown, budaya organisasi merupakan pola kepercayaan, nilai-nilai, dan cara yang dipelajari menghadapi pengalaman yang telah dikembangkan sepanjang sejarah organisasi yang memanifestasi dalam pengaturan material dan perilaku anggota organisasi.
4.Menurut Wirawan, budaya organisasi adalah norma, nilai-nilai, asumsi, kepercayaan, filsafat, kebiasaan organisasi, dan sebagainya (isi budaya organisasi) yang dikembangkan dalam waktu yang lama oleh pendiri, pemimpin, dan anggota organisasi yang disosialisasikan dan diajarkan kepada anggota baru serta diterapkan dalam aktivitas organisasi sehingga mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku anggota organisasi dalam memproduksi produk, melayani para konsumen, dan mencapai tujuan.

Budaya organisasi adalah sebuah karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi yang dianut oleh para anggotanya sehingga membedakan organisasi satu dengan lainnya. Pola dasar budaya merupakan faktor yang signifikan dalam menentukan efektivitas organisasi. Selain itu, misalnya budaya suatu lembaga akan berpengaruh juga terhadap bentuk lembaga tersebut dan yang paling penting adalah budaya berhubungan erat dengan kualitas. Hal ini dikemukakan Cameron K.S dan Freeman S.J dalam S. Nur Hidayah terbagi empat pola dasar budaya organisasi, yaitu: (Hidayah, 2016: 28).

a.         Adhocracy culture: menekankan pada kreativitas, proaktif, dan inovasi dengan karakteristik yang bersifat flexibel, mudah beradaptasi, dan berorientasi eksternal.
b.       Clan culture: menekankan pada komitmen karyawan, loyalitas, keterbukaan, moral, partisipasi, kerjasama tim, dengan karakteristik yang bersifat flexible dan berorientasi internal.
c.        Market culture: menekankan pada pencapaian tujuan, produktivitas, penyelesaian tugas, keuntungan, serta efisiensi dengan karakteristik yang menyukai kestabilan dan pengendalian.
d.   Hierarchy culture: fokus pada perintah, keseragaman, stabilitas, dan pengendalian. Nilai yang dikembangkan adalah pengambilan keputusan yang terpusat, prosedurnya adalah pengambilan keputusan yang terpusat, prosedural, dan pengukuran terstandar.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa budaya organisasi membentuk pola nilai-nilai, sikap-sikap, kepercayaan, kebiasaan-kebiasaan seseorang maupun kelompok dengan mempengaruhi perilaku kerja dan cara bekerja yang baik dalam organisasi. Di sisi lain juga budaya organisasi dapat dijelaskan sebagai sistem nilai, kepercayaan, dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan norma-norma perilaku.
Pada dasarnya, budaya ini diyakini mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan organisasi. Budaya juga merupakan suatu pola asumsi dasar yang ditemukan dan dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu karena mempelajari dan menguasai masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal, yang telah bekerja dengan cukup baik untuk dipertimbangkan secara layak dan karena itu diajarkan pada anggota baru sebagai cara yang dipersepsikan, berpikir dan dirasakan dengan benar dalam hubungan dengan masalah tersebut.

B.     Fungsi Budaya Organisasi
Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya. Menurut Robbins fungsi budaya organisasi sebagai berikut: (S. P. Robbins, 1996: 294).
1.        Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
2.        Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3.        Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari pada kepentingan diri individual seseorang.
4.        Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
5.        Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
Dalam pengertian lain, hal ini budaya organisasi juga mempunyai fungsi yang sejalan dengan yang telah dijelaskan, antara lain yaitu: Pertama, memberikan identitas organisasi kepada anggotanya; Kedua, memudahkan komitmen kolektif; Ketiga, mempromosikan stabilitas sistem sosial; dan Keempat, membentuk perilaku dengan manajer merasakan keberadaannya. 

C.    Tipe Budaya Organisasi
Neo dan Mondy membedakan tipe budaya organisasi dalam dua kelompok, antara lain:

1)        Open and participative culture; dan
2)        Closed and autocratic culture.

Open and participative culture ditandai oleh adanya kepercayaan terhadap bawahan, komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang penuh suportif dan penuh perhatian, penyelesaian secara kelompok, adanya otonomi pekerja, sharing informasi dan pencapaian tujuan yang output-nya tinggi.
Closed and autocratic culture ditandai oleh pencapaian tujuan output yang tinggi, namun pencapaian tersebut lebih dinyatakan dan dipaksakan pada organisasi dengan para pemimpin yang otokrasi dan kuat.

D.    Pembentukkan Budaya Organisasi
Pada hakekatnya budaya organisasi adalah sebuah pergerakkan kelompok, oleh sebab itu terbentuknya budaya organisasi tidak terlepas dari dukungan kelompok yang terbentuk dalam waktu yang cukup lama. Dalam pembentukan organisasi juga tidak terlepas dari seorang leader atau tokoh (top manager) yang secara ketat menerapkan visi, misi dan nilai-nilai organisasi kepada para bawahannya, sehingga dalam waktu tertentu menjadi kebiasaan dan dijadikan acuan oleh seluruh anggotanya untuk bertindak dan berperilaku.
Seperti yang dikutip Ara Hidaya dan Imam Machali (2012: 99), pembentukan budaya menurut Stephen P. Robbins digambarkan sebagai berikut:




Dari gambar di atas, menjelaskan bahwa dalam proses pembentukan budaya organisasi telah melalui tahap-tahap yaitu pendiri pendiri memili asumsi, persepsi, dan nilai-nilai yang harus diseleksi terlebih dahulu. Dengan demikian, dari hasil seleksi tersebut akan dimunculkan kepermukaan yang nantinya menjadi karakteristik budaya organisasi. Berikut ini penjelasannya:

1.    Seleksi. Tujuan eksplisit dari proses seleksi adalah mengidentifikasi dan memperkerjakan individu-individu yang mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan melakukan peketjaan dengan sukse di dalam organisasi itu.
2.      Manajemen Puncak. Tindakan manajemen puncak juga mempunyai dampak besar pada budaya organisasi.
3.      Sosialisasi. Proses adaptasi karyawan dengan budaya organisasi. Dan terdapat tiga tahap yaitu:

a.       Tahap Pra-kedatangan. Kurun waktu pembelajaran dalam proses sosialisasi yang terjadi sebelum seorang anggota (civitas) baru bergabung dengan organisasi itu. Mereka datang dengan serangkaian nilai, sikap dan perilaku yang telah dimiliki sebelumnya. Disinalah muncul heteroginitas budaya.

b.      Tahap Keterlibatan. Tahap dalam proses sosialisasi dimana seorang anggota (civitas) baru menaksirkan seperti apa sebenarnya organisasi itu dan menghadapi kemungkinan bahwa harapan dan kenyataan dapat berbeda. Pada tahap ini, sering teradi konflik antara persepsi semula dengan realitas yang mereka temukan pada organisasi yang baru mereka masuki. Mereka dituntut untuk menyelesaikan berbagai problem tersebut selama masa orientasi berlangsung.

c.       Tahap Metamorfosis. Tahap dalam proses sosialisasi di mana seorang anggota (civitas) baru menyesuaikan diri pada norma dan nilai kelompok kerjanya. Mereka sudah bisa menghayati dan menerima norma-norma organisasi dan kelompok kerja mereka. Disinilah suatu organisasi akan menerima hasil dari proses sosialisasi yang berupa produktivitas, komitmen dan perputaran.

E.     Urgensi Budaya Organisasi di Lembaga Pendidikan Islam
Budaya adalah segala nilai, pemikiran, serta simbol yang memengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, serta kebiasaan seseorang dan masyarakat. Pada awalnya, pemimpin lembaga pendidikan Islam pasti memiliki visi, misi dan tujuan tertentu yang diberikan setiap elemen yang ada di lembaga pendidikan Islam. Seorang pemimpin memberi contoh, kemudian diikuti bawahan. Akhirnya kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menjadi budaya jika semuanya, baik pemimpin maupun bawahan memperaktikkannya Adapun kaitannya dengan peran budaya organisasi di lembaga pendidikan Islam, menurut Purwanto, budaya organisasi memiliki lima peran, yaitu
1.Budaya memberikan rasa memiliki identitas dan kebanggaan bagi karyawan, yaitu menciptakan perbedaan yang jelas antara organisasinya dengan yang lain.
2. Budaya mempermudah terbentuknya komitmen dan pemikiran yang lebih luas daripada kepentingan seseorang.
3.Memperkuat standar perilaku organisasi dalam membagun pelayanan superior pada pelanggan.
4.Budaya menciptakan pola adaptasi.
5. Membangun sistem kontrol organisasi secara menyeluruh.

Dalam Islam, Rasulullah SAW sebagai panutan umat Muslimin, memandang orang lain sebagai manusia yang utuh dan dianggap sebagai sahabat atau kawan, termasuk kepada pembantunya sendiri. Rasulullah SAW tidak menganggap pembantunya sebagai bawahan tetapi merupakan saudara bagi beliau, sehingga apa yang beliau makan dan beliau pakai tidak berbeda dengan apa yang dimakan dan dipakai oleh pembantunya. Jika pimpinan lembaga penndidikan mampun meniru sikap yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ini tentu akan memberikan pengaruh yang berbeda di lembaga pendidikan Islam. Iklim kerja akan terasa nyaman dan dapat memunculkan berbagai macam kreativitas-kreativitas baru yang dimunculkan oleh anggota lembaga pendidikan Islam. Namun jika bawahan berada di bawah tekanan yang begitu kuat dari pimpinan, maka seorang bawahan tidak akan berprestasi dan hanya akan mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya.
Begitu pentingnya budaya organisasi di lembaga pendidikan Islam, bisa tercerminkan dari keberhasilan Rasulullah SAW dalam membentuk suasana kerja yang nyaman kepada para sahabatnya, hal ini disebabkan oleh sikap beliau yang sangat penyayang kepada seluruh umatnya, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran, ayat : 159

Artinya; “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhat ikasar ,tentulah mereka menjauhkan diri dar isekelilingmu .karena itu ma›afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad,maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”

Pada awal kemunculannya, budaya organisasi yang dibentuk di lembaga pendidikan Islam biasanya mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendiriannya yang dipengaruhi oleh cita-cita internal dan tuntutan eksternal yang melingkupinya, sebagai sebuah fenomena kelompok, proses kemunculan budaya memakan waktu yang cukup lama dan pada umumnya melibatkan seorang tokoh (pimpinan puncak) yang mengintroduksikan visi dan misi kepada stafnya, kemudian dijadikan acuan oleh seluruh anggota kelompok.29 Budaya organisasi yang terbentuk di lembaga pendidikan Islam pada dasarnya memakan waktu yang tidak sebentar dan tidak jarang yang naik turun dalam proses pembentukannya. Namun, pada hakekatnya budaya organisasi yang terbentuk di lembaga pendidikan Islam merupakan hasil pengalaman setiap elemen secara komulatif dari pendirinya dan juga dari lingkungan masyarakat sejak lembaga tersebut berdiri hingga saat ini.
Pada organisasi yang dikelola dengan baik, setiap orang dalam lembaga pendidikan Islam menganut budaya mereka. Budaya yang kuat berperan dalam dua hal, yaitu:
   1.  Mengarahkan perilaku. Karyawan mengerti bagaimana harus bertindak dan apa yang diharapkan  dari mereka.
2. Budaya yang kuat memberi karyawan pengertian akan tujuan, dan membuat mereka berpikiran positif terhadap perusahaan. Mereka mengerti apa yang ingin dicapai perusahaan mencapai sasaran tersebut. Budaya berfungsi sebagai perekat yang menyatukan organisasi. Jika organisasi memiliki budaya yang kuat, organisasi dan karyawannya akan memiliki perilaku yang seiring dan sejalan

Kesimpulan
Budaya organisasi merupakan perekat, pemersatu, identitas, citra, brand, pemacu-pemicu, kepercayaan, nilai, norma perilaku yang diterima dan disosialisasikan secara berkesinambungan sebagai pembentuk karakteristik lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan eksternal dan integrasi internal, serta merupakan sistem nilai yang diyakini dan dapat dipelajari, dapat diterapkan dan dikembangkan secara terus menerus, serta budaya organisasi merupakan suatu cara pandang yang sama bagi sebagian besar orang terhadap lembaga pendidikan Islam.

Budaya organisasi dibentuk oleh pemimpin lembaga pendidikan Islam dan juga merupakan salah satu fungsi dari pemimpin tersebut yang sangat menentukan. Pengaruh pemimpin lembaga pendidikan Islam pada pembentukan budaya organisasi, menjadi inti dari budaya awal lembaga pendidikan tersebut. Urgensi budaya organisasi di lembaga pendidikan Islam dapat mengembangkan budaya yang telah ada di lembaga tersebut menuju arah keberhasilan dan kesuksesan yang lebih baik lagi dalam mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.



Daftar Pustaka

Djatmiko, Yayat Hayati. 2008. Perilaku Organisasi. Bandung: PT. Alfabeta.

Greenberg, Jerald dan Robert A. Baron. 1997. Behavior in Organizations, Understanding
and Managing The Human Side of Work. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Hafidhuddin, Didin dan Hendri Tanjung. 2003. Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta:
Gema Insani Press.

Harrison, Laurence dan Huntington. 2000. Culture Matters, How Values Shape Human
Progress. New York: Basic Books.

Komariah, Aan dan Chepi Triatna. 2006. Visionary Leadership: Menuju Sekolah Efektif.
Bandung: Bumi Aksara.

Marno dan Triyo Supriyatno. 2009. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam.
Bandung: Refika Aditama.

Mohyi, Ach. 1999. Teori Dan Perilaku Organisasi. Malang: UMM Press.

Nawawi, Hadari. 2006. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

Purwanto, Ngalim. 2008. Budaya Perusahaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Robbins, Stephen P. 2002. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi, Edisi.5. Jakarta: Erlangga.
Saefullah, U. 2012. Manajemen Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia.

Siagian, Sondang P. 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Sobirin, Ahmad. 2009. Budaya Organisasi (Pengertian, Makna dan Aplikasinya dalam
Kehidupan Organisasi). Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Suharsaputra, Uhar. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: PT. Refika Aditama.
Sumarwan, Ujang. 2003. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran.
Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.

Tika, Moh. Pabundu. 2008. Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Perusahaan.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.





Minggu, 22 November 2015

Terimakasih Guru

Banyak sekali kenangan yang saya miliki ketika masih bersekolah dari yang lucu, bahagia sampai yang tersedih. Namun, dari semua kenangan itu, ada satu kenangan yang mengingatkan saya kepada salah satu sosok guru yang sangat luar biasa. Guru yang telah menginspirasi saya dan tanpa disadari saya pun telah mengikuti jejak beliau. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP kelas 2, tepatnya bersekolah di SMP Negeri 1 Indralaya. Mungkin itu sekitar tahun 2004 an, mengenai waktunya saya tidak terlalu ingat. Namun, yang jelas saya masih mengingat setiap detail ceritanya. Hmm, di masa itu masih menggunakan kurikulum 1994 yang sedang menuju pergantian kurikulum 2004 yaitu KBK, dimana system sekolah masih menggunakan klasifikasi kelas berdasarkan prestasi atau peringkat kelas. Kelas yang paling diidamkan semua siswa adalah kelas unggulan dan biasanya merupakan kelas dengan urutan pertama. Alhamdulillahnya saya selalu masuk kelas itu hingga tamat sekolah, ya butuh perjuangan besar untuk berada disana karena otomatis harus belajar lebih giat lagi agar tidak tergeser dari posisi. Dan bermula dari sana lah, untuk pertama kalinya saya berinteraksi langsung dengan sosok guru tersebut, sosok yang sampai detik ini masih saya kagumi karena kedisplinannya.
Namanya, Bapak Rusman Hifni. Beliau adalah kepala sekolah saya sekaligus salah satu guru matematika di SMP. Sebenarnya, saya sering bertemu dengan beliau, namun tidak pernah berinteraksi langsung sama sekali, hanya saling berpapasan saja. Itu pun pertemuannya selalu di depan gerbang sekolah. Ya, setiap harinya beliau selalu berdiri di depan gerbang sekolah menyambut kedatangan siswa-siswanya. Bahkan saya pernah datang pagi-pagi, ternyata bapak Kepala Sekolah sudah berdiri di depan gerbang hingga sampai bel berbunyi. Beliau tidak hanya berdiri saja, namun juga menerapkan budaya cinta lingkungan. Jadi, setiap paginya kami sebagai siswa harus bersiap-siap mengorbankan kedua tangan untuk memungut sampah yang ada di sekolah. Setelah itu, baru kami bisa masuk kelas. Itu merupakan kenangan yang menurut saya mengajari banyak hal terutama tentang ketauladanan seorang pemimpin.
Meski seperti itu, ada satu kenangan terindah yang benar-benar membuat saya tidak bisa melupakan beliau bahkan ketika mengingatnya benar-benar membuat  terharu karena saya tidak menyangka telah mengikuti jejak beliau yang nantinya juga berprofesi menjadi seorang guru bidang studi matematika. Kenangan itu terjadi, ketika beliau masuk di kelas saya. Memang pada saat itu, kelas sangat ribut dikarenakan belum ada guru yang datang. Hingga akhirnya Bapak Rusman Hifni turun tangan dan menghampiri kelas kami. Kedatangan beliau benar-benar membuat kami yang tadinya ribut, langsung mengambil posisi duduk dan diam seketika. Suasana menjadi hening dan mencekam, bukan karena takut dengan beliau, namun mungkin karena rumor kedisplinan beliau yang telah menyebar seantero sekolah. Saat itu, saya hanya berfikir, apakah mungkin bapak kepsek akan menghukum kami karena membuat keributan di kelas, apalagi kelas kami merupakan kelas yang menjadi contoh untuk kelas lainnya. Belum lagi wajah yang ditunjukkan beliau sangat menakutkan, dingin dan tanpa ekspresi, benar-benar membuat kami semua menjadi sangat tegang dan tidak berkutik. Tidak lama dari itu, akhirnya bapak Rusman Hifni angkat bicara. “Pelajaran apa sekarang?”.
“Matematika, Pak”, jawab semua siswa dengan suara yang masih grogi
“Gurunya datang terlambat, ada sesuatu hal yang dilakukan. Karena itu, sampai gurunya datang, Bapak mau mengetest kalian”
Mendengar apa yang diucapkan bapak Rusman Hifni, semakin membuat suasana kelas menjadi lebih tegang lagi. Tidak tahu bagaimana ekspresi semua teman-teman lainnya, namun yang jelas, saat itu saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Menelan ludah pun rasanya susah banget..he..he. Kemudian, beliau memberikan beberapa aturan dalam tes ini. dan aturan ini lah membuat kami pun semakin tegang. Jika dipikir-pikir tes yang diberikan itu sangat lah mudah, yaitu Bapak Rusman hanya akan menanyakan soal perhitungan matematika. Namun, entah mengapa tes ini sangatlah sulit bagi kami dikarenakan ada aturannya yaitu tes yang diberikan menggunakan waktu dan  jika salah, maka wajah kami akan diberi bedak dari papan penghapus kapur.
Pertanyaan pertama pun di ajukan oleh bapak Rusman Hifni, dan satu anak sudah menjadi korban bedak. Selanjutnya pertanyaan kedua, ketiga, keempat, tetap sama setiap pertanyaan selalu ada korban. Hingga akhirnya, pertanyaan kelima. Semua siswa masih dengan wajah tegang dan was-was serta pastinya berharap bukan menjadi korban selanjutnya, ya termasuk saya yang berharap sama seperti itu. Namun ternyata, harapan  hanya harapan, pertanyaan itu pun diberikan kepada saya. Tidak bisa saya pungkiri, perasaan gugup ketika saya ditunjuk, benar-benar menerobos masuk di setiap aliran darah. Dengan waktu yang diberikan, saya harus menjawab pertanyaan bapak dan hasilnya bedak itu pun akhirnya menempel di wajah saya. Pertemuan ini pun berakhir ketika guru matematika kelas kami, akhirnya datang dan seketika itu juga suasana berubah tidak setegang tadi, teman-teman mulai merasa lega seperti baru saja keluar dari arena permainan yang menakutkan.


Kejadian itu pun mulai menjadi pembicaraan teman-teman, meski menakutkan ternyata menyimpan hikmah sendiri bagi kami, terutama untuk saya sendiri karena kejadian itu semakin memotivasi saya untuk selalu belajar terutama pelajaran matematika. Tidak hanya itu, ada hikmah lain yang kami dapat, kejadian barusan ternyata tidak hanya terjadi di kelas kami, melainkan kelas lain pun juga pernah merasakan dan setelah mendapatkan berbagai informasi, ternyata Bapak Rusman Hifni sering kali memantau kelas, jika tidak ada gurunya, maka Beliau yang akan mengisi kelas tersebut sampai guru yang mengajar datang di kelas. Terimakasih Guru

Rabu, 11 Juni 2014

SGI Share, Mekar Mukti nan Indah

     Perjalanan ini dimulai ketika aku dan rekan-rekan SGI melaksanakan program Share (SGI Help And Care) di Desa Mekar Mukti, Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Selama menuju kesana, banyak sekali tantangan-tantangan luar biasa yang harus kami lewati bersama, mulai dari perjalanan bogor menuju kecamatan cibalong dengan waktu kurang lebih 11 jam. Selanjutnya dari kec. Cibalong menuju desa Mekar Mukti kurang lebih 2 jam. Hal yang paling mengesankan, ketika menuju desa Mekar Mukti, kami menggunakan truk besar yang mana kami semua masuk di dalam beserta barang-barang bawaan. Selama perjalanan, ternyata jalanan yang harus kami lalui benar-benar ekstrim, kami harus berpegang kuat dengan setiap sisi-sisi truk sebab jika tidak kami akan terjatuh. Jalanan menuju desa merupakan jalanan berbatu, tanah yang berwarna merah serta harus melewati tanjakan-tanjakan tinggi dan turunan yang curam ditambah dengan panasnya matahari yang menyengat tubuh kami, tidak membuat kami lelah, bahkan semuanya tergantikan dengan pemandangan alamnya yang indah, bukit-bukit nan hijau mengitari setiap perjalanan kami, kemudian tampak dari kejauhan sawah-sawahnya pun menambah keindahan alam. Tidak hanya itu, lautan yang biru, terlihat dari kejauhan serta banyaknya buah pisang setiap perjalanan kami membuat perut ingin segera melahapnya.
    Sesampai di balai desa, kami disambut dengan baik oleh kepala desa dan beberapa perangkat desa, bahkan dusun kalong, tempat dimana aku dan teman-teman lainnya yaitu Suci, Icha, Hendra, Sauqi, Hakkin akan menginap selama 3 pekan dan bertemu dengan induk semang, kami didampingi oleh salah satu perangkat desa yang bernama Pak Ndang. Perjalanan kaki menuju dusun kalong membutuhkan waktu yang cukup lama karena jaraknya yang cukup jauh, namun hal itu tidak sebanding dengan pemandangannya yang sangat indah. Dalam perjalanan kami, di setiap sisi jalan yang kami lalui tak luput dari buah yang namanya pisang, kamipun harus berjalan ditengah lebatnya hutan, namun ada beberapa lahan yang telah ditanami warga dengan berbagai tumbuhan yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yaitu kacang hijau, cabe rawit, singkong dan lain-lain. Selain itu, selama perjalanan kami harus naik turun bukit yang mana jalan yang kami lalui penuh dengan batu-batuan, bahkan juga ada yang tanahnya merah, jika hujan kerap kali alas sepatu menjadi setebal tanah. Meski perjalanan kami sulit dan ditambah dengan membawa berbagai macam barang-barang kebutuhan yang kami miliki, ternyata hal itu sangat menyenangkan. Apalagi ditambah keramahtamahan bapak Ndang yang menemani kami selama perjalanan. Jika dilihat, Pak Ndang sudah cukup tua, tampak diwajahnya terukir keriput-keriput yang menggarisi warna kulitnya, rambutnya yang putih, serta tubuhnya yang kurus dan kecil, tidak membuat dia kelelahan ketika menemani kami menuju dusun kalong. Walaupun seperti itu, Pak Ndang telah banyak membantu kami dengan membawa salah satu barang bawaan.
    Ketika di tengah perjalanan, aku mengalami kelelahan karena bawaan yang kubawa cukup banyak, tak lama dari itu Pak Ndang membantu aku untuk membawakan barang-barangku, sehingga barang yang dibawa Pak Ndang menjadi dua. Awalnya kutolak, namun kata Pak Ndang "tidak apa2". Hal itu, semakin menyadariku bahwa masyarakat mekar mukti sangatlah ramah dan sangat baik dalam menyambut kami serta tingkat kepeduliannya kepada orang lain juga tinggi. Kemudian, karena menuju dusun kalong merupakan perjalanan pertama kami, tampak sekali kalau kami mengalami kelelahan yang sangat luar biasa, mungkin karena belum biasa untuk melewati medan yang seperti itu. Sehingga, Pak Ndang meminta kami untuk berhenti dan singgah di salah satu rumah penduduk yang cukup sederhana. Di rumah tersebut, kami disajikan minuman oleh pemilik rumah padahal kami sendiri saja belum kenal dengan pemilik rumah tersebut. Tidak hanya itu, dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada rumah lagi yang mana pemilik rumahnya menyajikan berbagai bentuk makanan seperti kelontong, opak, wajik dan kripik pisang. Saat itu, diantara kelelahan yang kami lalui, ternyata masyarakat desa mekar mukti menyambut hangat kedatangan kami, ciri makanannya yang khas serta keramahan yang mereka berikan membuat aku dan teman-teman serasa berada di kampung sendiri. Kami pun bersama-sama saling mengenalkan diri dan menceritakan tujuan kedatangan SGI ke desa mekarmukti. Selain itu, kami juga mendapatkan informasi tentang kemajuan desa mekar mukti, yang awalnya belum memiliki listrik dan sekarang listrik telah dirasakan di setiap rumah. Perjuangan masyarakat dalam membangun desa mekar mukti sangatlah gigih, budaya mereka yang saling gotong royong membuat desa mekarmukti mengalami perkembangan yang cukup pesat meskipun belum maksimal.
  Akhirnya, tempat yang aku dan teman-teman tuju telah sampai, walau harus bermandikan keringat karena panasnya matahari, ternyata saat-saat itu terdengar suara gemuruh aliran air yang cukup keras, sesaat aku melihat ke arah suara itu,..."SubhanaAllah", itulah kata pertama yang keluar dari mulutku, mataku tak henti-hentinya melihat ke arah itu yang mana posisi aku dan teman-teman berada di atas bukit, tampak sebuah sungai yang luas dengan arus airnya yang deras serta batu-batuan yang besar telah menghipnotisku atas keindahan alamnya yang luar biasa. Tak lama dari itu, aku dan teman-teman melanjuti perjalanan, hingga akhirnya diantar Pak Ndang ke rumah induk semang masing-masing. Kami pun secara bergiliran mengunjungi rumah masing-masing untuk saling bersilaturahmi, seperti biasa lagi dan lagi, aku dan teman-teman disambut dengan sangat baik,  bahkan disajikan minuman dan makanan ciri khas daerah sana. Begitulah, kesan pertamaku ketika pertama kali datang ke desa mekar mukti dusun kalong, pemandangan alamnya yang indah yang masih dijaga kelestariannya serta budaya keramahtamahan masyarakatnya yang masih kental dalam menerima kedatangan kami, telah mengajariku banyak hal tentang bagaimana bersikap dan memperlakukan orang lain, meski itu orang yang belum dikenal.


Bangga Jadi Guru....
Guru Berkarakter...
Menggenggam Indonesia....

Untuk mengetahui info tentang Aktivitas SGI, bisa kunjungi web: sekolahguruindonesia.net



Suasana Desa Mekar Mukti....